Sejarah AJI Pekanbaru

logo aji indonesia panjangAliansi Jurnalis Indepeden (AJI) Pekanbaru terbentuk seiring dengan berubahnya rezim Dari Orde Baru ke Reformasi. Embrio AJI dimulai pada 1998 saat sekitar Sembilan jurnalis Harian Riau Pos, sebagai media besar pada saat itu, seperti Hasan Hanafi, Norham Wahab, Eddy M Yatim, Kasdy Albasyiri, Muchid, Candra Ibrahim, Mosthamir Thalib dan Furqan LW, mulai mencoba mencari tahu bagaimana mendirikan AJI di Pekanbaru.

Eddy M Yatim menceritakan, ia dan Norham Wahab, mendapat kabar, AJI bisa dibentuk di Pekanbaru dengan menghubungi AJI Medan, sebagai AJI terdekat. Setelah berbulan-bulan melakukan upaya, ditandai dengan digelarnya Seminar Sehari “Pemilu Jurdil di Tangan Kita” dengan Tema “Potensi Kecurangan Dalam Pelaksanaan Pemilu 1999”, Senin, 31 Mei 1999, di Hotel Sahid, Pekanbaru. Pada seminar ini, diselenggarakan berdasarkan kerja sama antara Embrio AJI Riau, UNFREL Simpul Riau, dan Yayasan Prestasi Anak Bangsa, Jakarta.

Dalam seminar tersebut, dihadirkan pembicara antara lain, Andi Alfian Malarangeng, AS Hikam, Erman Suparno, Tabrani Rab, Ashaluddin Jalil, dan Andi Yusran. Dari seminar inilah, dihadiri para jurnalis di Riau, pada puncaknya pembentukan dan pendeklarasian AJI Pekanbaru, Senin 31 Mei 1999. Mantan Ketua AJI Pekanbaru, Ahmad Fitri menceritakan, ia turut menghadiri deklarasi tersebut.

Selain nama-nama di atas, terdapat nama-nama seperti Nasori, dan Ahmad Jamaan, turut menghadiri deklarasi tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, anggota AJI Pekanbaru memang lebih banyak diisi oleh jurnalis di lingkungan Riau Pos Grup, sebab kondisi media cetak tidak seperti sekarang. Dari sini, dimulai kepemimpinan Eddy M Yatim dan Norham Wahab sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Periode pertama, 1999-2001.

Namun, di tengah perjalanan periodesasi kepengurusan, Eddy M Yatim, dipindahtugaskan ke Batam untuk menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Batam Pos, Riau Pos Group. Eddy Yatim menjelaskan, ada keharusan ketua berdomisili di ibukota provinsi, dalam hal ini Pekanbaru (sebelum pemekaran menjadi Provinsi Kepulauan Riau). Maka, ditunjuklah Candra Ibrahim sebagai Pelaksana Tugas (Plt) dan kemudian diteruskan oleh Ahmad Jamaan. Pada 2005, estafet kepemimpinan berpindah ke tangan duet Ahmad Fitri dan Adriadi, sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Pekanbaru melalui Konferensi AJI Kota Pekanbaru pertama kali dilaksanakan di Kampus Universitas Riau, Gobah, Pekanbaru.

Ahmad Fitri memimpin AJI Pekanbaru untuk Periode sisa AJI Pekanbaru 2004-2007, awalnya dipimpin oleh saudara Ahmad Jamaan. Namun karena pada 2005 Ahmad Jamaan diterima sebagai dosen PNS di Fisipol Universitas Riau maka dia melepaskan tugasnya sebagai Ketua AJI Pekanbaru ketika itu. Koordinasi dengan pengurus AJI Pekanbaru dan pengurus AJI Indonesia terus dilakukan Ahmad Fitri guna menggerakkan roda organisasi. Harapan AJI Indonesia kepada semua pengurus AJI di daerah adalah bagaimana keberadaan AJI bisa semakin dikenal luas oleh publik, khususnya di kalangan jurnalis itu sendiri. Pengurus AJI di daerah juga diminta untuk terus menambah jumlah keanggotaan dengan tetap mengedepankan seleksi yang ketat menjadi anggota AJI.

Untuk semakin memperkenalkan AJI kepada masyarakat dan jurnalis, pengurus ketika itu sering menggelar diskusi-diskusi kecil yang temanya tidak jauh dari semangat dan platform AJI, profesionalisme, kesejahteraan dan kebebasan pers. Satu di antaranya, diskusi bertema “RUU KUHP dan Kebebasan Pers” yang digelar di Kampus Unri Gobah Pekanbaru, pada 2005. Diskusi mengupas tentang kebebasan pers ini menghadirkan pembicara dari AJI Indonesia, Bayu Wicaksono. Hadir juga praktisi hukum lokal ketika itu, Zulkarnain Nurdin dan Firdaus Basir.

Pada 2007, Ahmad Fitri kembali dipercaya menjadi Ketua AJI Pekanbaru melalui Konferta II AJI Pekanbaru berlangsung di Hotel Rauda Pekanbaru. Pada Konferta ini dihadiri belasan anggota AJI Pekanbaru tersebut juga dipilih Hasan Basril sebagai Sekretaris AJI Pekanbaru 2007-2010. Mulai tahun tersebut, AJI Pekanbaru mulai memberanikan menggelar Konferta dengan gaung lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, keanggotaan AJI Pekanbaru tidak lagi didominasi jurnalis dari Riau Pos Grup saja. Beberapa jurnalis dari grup media lain seperti Riau Mandiri mulai aktif bergabung ke AJI, seperti Hasan Basril, Dina Febriastuti dan Imelda Vinolia. Bahkan, keanggotaan AJI juga mulai diisi oleh jurnalis dari sejumlah kabupaten dan kota di Riau seperti Dumai, Rengat dan Tembilahan. Banyaknya media cetak dan online yang terbit di Riau juga berdampak pada semakin bertambahnya jumlah jurnalis yang menjadi anggota AJI Pekanbaru.

Jumlah anggota AJI Pekanbaru mulai meningkat dari tahun ke tahun, dan pengurus terus berupaya memperkenalkan AJI ke publik melalui pemberitaan di media massa. Media massa di Riau sering menulis berbagai aktivitas AJI Pekanbaru, seperti aktivitas dalam hal pengembangan kapasitas jurnalis. Sesuai dengan platform disebutkan sebelumnya, meningkatkan profesionalisme, kesejahteraan dan kebebasan pers, AJI Pekanbaru menggelar berbagai diskusi untuk pengembangan kapasitas jurnalis di Riau terkait dengan platform tersebut.

Dalam hal peningkatan profesionalisme jurnalis, AJI Pekanbaru pada 2009 berkesempatan menggelar training etik jurnalis dengan tema “Mematuhi Kode Etik Menghindari Jerat Hukum”. Training ini digelar AJI Indonesia bekerja sama dengan DRSP-USAID, diikuti jurnalis yang di Pekanbaru dan sejumlah kabupaten di Riau. Training digelar dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan menyegarkan pengetahuan jurnalis, khusus mengenai Kode Etik Jurnalistik dan persoalan-persoalan aktual mengenai etika pers. Training juga digelar untuk memberikan pengetahuan kepada jurnalis untuk bisa menghindari jerat hukum terkait persoalan pencemaran nama baik.

Terkait dengan upaya meningkat kesejahteraan jurnalis, AJI Pekanbaru juga berkesempatan menyelenggarakan diskusi tentang “upah layak untuk jurnalis”. Diskusi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (May Day) ini digelar di Plaza Soto Pekanbaru pada 30 April 2009. Diskusi menghadirkan pengurus serikat buruh di Riau, pengamat ekonomi, pemerintah daerah dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) ini bertujuan untuk memberikan penyadaran dan pemahaman bagi jurnalis di Riau terkait kelayakan upah yang mereka terima sebagai jurnalis.

Dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih luas tentang kebebasan pers, AJI Pekanbaru bekerjasama dengan Dewan Pers juga berkesempatan menggelar diskusi dengan tema “Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik” di Hotel Pangeran Pekanbaru. Diskusi ini menghadirkan pembicara dari pengurus AJI Indonesia Willy Pramudya, anggota Dewan Pers Santoso, praktisi Humas di Riau, Fakhrunnas MA Jabbar. Diskusi dihadiri kalangan jurnalis dan praktisi Humas di Riau.

Banyak memang persoalan dihadapi dalam mengembangkan organisasi AJI. Mulai dari minimnya anggaran yang dimiliki, kantor yang sering berpindah-pindah hingga masih banyaknya pengurus yang tidak bisa sepenuhnya aktif beraktivitas di AJI. Walaupun demikian, kondisi seperti ini tidak mengurungkan niat pengurus AJI Pekanbaru untuk terus berkiprah dalam mengembangkan organisasi. Sebuah upaya bersama yang tentu saja tak sia-sia jika melihat perkembangan AJI Pekanbaru dewasa ini, yaitu jumlah anggota AJI Pekanbaru yang terus meningkat. Dan tak kalah penting adalah kiprah AJI Pekanbaru saat ini makin dikenal dan dihormati masyarakat, khususnya oleh kalangan jurnalis di Provinsi Riau. Dan juga, AJI Pekanbaru selalu melahirkan generasi-generasi jurnalis yang bisa bersikap independen dan profesional.

Pada Mei 2010, estafet kepemimpinan beralih ke duet Ilham M Yasir dan Dina Febriastuti, sebagai Ketua serta Sekretaris AJI Pekanbaru. Ilham M Yasir mulai mencoba melakukan pendekatan ke kawan-kawan NGO lingkungan hidup, transparansi anggaran dan keuangan negara (Fitra), serta organisasi kemasyarakatan lainnya. Dari pendekatan-pendekatan tersebut, mulailah dijalin kerja sama. Di antaranya, pada Desember 2010, diselenggarakan “Field Trip” dengan Greenpeace, mengangkat isu Harimau Sumatera. Selain field trip juga dilakukan pameran foto dengan tema “Hutan dan Harimau”. Tidak hanya itu, AJI juga menjalin kerja sama dengan menandatangani MoU dengan Forum Pers Mahasiswa (Fopersma) yang ada di Pekanbaru serta Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Riau.

Dari sini, mulai berbagai kerja sama terjalin dengan erat hingga sekarang. Ini dilakukan karena AJI Pekanbaru memahami dengan sangat etika dan aturan organisasi yang melarang menerima dana dari APBD dan APBN. Selain itu, AJI Pekanbaru mencoba kreatif dengan menjalin kerja sama dengan kawan-kawan NGO. Di antara kerja sama tersebut, pada akhir Januari 2012, diselenggarakan Workshop “Liputan Investigasi Kehutanan” dengan mengundang pembicara Dandhy D Laksono dari AJI Indonesia dan IGG Maha Adi dari SIEJ. Acara ini dihadiri 25 peserta dari jurnalis yang ada di Riau, bukan hanya Pekanbaru saja.

Selain itu, AJI Pekanbaru juga menggelar Workshop “Kekerasan terhadap Jurnalis dan Advokasi Jurnalis” yang diselenggarakan oleh LBH Pers Jakarta, Mei 2013, di Hotel Ibis. Tidak hanya itu, AJI Pekanbaru juga melakukan proses pengawasan transparansi anggaran dengan menggandeng NGO lokal di Riau. Selain itu, masih di Mei 2013, tepatnya pada 4 Mei, AJI Pekanbaru menyelenggarakan pemutaran film sekaligus diskusi mengenai film “Di Balik Frekuensi” dengan mengundang langsung tokoh utamanya, Luviana, di kampus Fisipol Unri. AJI Pekanbaru menggandeng mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Unri.

Pada 16 Oktober 2012, terjadi pemukulan terhadap tiga jurnalis saat jatuhnya pesawat Hawk 200/100 di Pandau Permai, Siak Hulu, Kampar. Jatuhnya pesawat ini memicu pemukulan yang dilakukan Letkol Adm Robert Simanjuntak terhadap pewarta foto Riau Pos, Didik Herwanto. AJI Pekanbaru berperan aktif melakukan advokasi terhadap Didik, calon anggota AJI yang sudah mengajukan formulir namun belum keluar kartu Anggota AJI. Ini dibuktikan dengan ditunjuknya Ilham M Yasir sebagai kuasa hukum Riau Pos dalam advokasi pemukulan tersebut. Akhirnya, pada Selasa, 17 September 2013, Letkol Robert Simanjuntak dijatuhi vonis 3 bulan kurungan penjara pada Pengadilan Tinggi Militer I/Medan.

Selain itu, pada masa kepengurusan Ilham-Dina, telah dilakukan kerja sama dengan Scale Up, lembaga swadaya yang fokus pada penyelesaian konflik sumber daya alam (tenurial). Di antaranya pembuatan komik penyelesaian konflik dengan dua edisi, video dokumenter serta workshop kepada jurnalis. Kepengurusan Ilham-Dina berakhir pada Oktober 2013, dan dilanjutkan oleh duet Fakhrurrodzi dan Eko Faizin sebagai Ketua dan Sekretaris. Ada yang unik pada kepengurusan ini, untuk pertama kalinya seorang illustrator, menjabat sebagai sekretaris AJI Pekanbaru. Mungkin ini pertama kali bagi AJI kota di Indonesia seorang illustrator jadi pengurus inti.

Di awal kepemidjsn 2mpinannya, Fakhrurrodzi memfasilitasi USAID untuk melakukan sosialisasi beasiswa kepada jurnalis di Pekanbaru. AJI Pekanbaru juga mengkritisi dan berunjuk rasa dengan para jurnalis lainnya di Pekanbaru ke kantor Gubernur Riau guna memprotes sikap dan perilaku Annas Maamun, Gubernur Riau yang bersikap arogan kepada jurnalis. Selain itu, juga diselenggarakan pemutaran film “Kabar Kubur Kabur” bekerja sama dengan LBH Pers Jakarta.

Tidak hanya itu, AJI Pekanbaru pertama kalinya di Riau membuat buku panduan peliputan jurnalistik Konflik Sumber Daya Alam dengan menggandeng Scale Up, Juli 2014. Tidak hanya itu, AJI juga membuat komik dan film dokumenter mengenai konflik sumber daya alam di Riau.

Pekanbaru, 1 Agustus 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *