Riau Masih Miskin, Wartawan Jangan Jadi Penonton

MINAS – Provinsi Riau sangat kaya lantaran memiliki ladang minyak terbesar di Indonesia. Ironisnya, saat ini 8,12 persen dari sekitar lima juta masyarakat Riau masih berada di bawah garis kemiskinan. Minyak Riau yang dieksploitasi sejak awal 1950-an itu ternyata belum mensejahterakan masyarakat Riau. Hingga saat ini Riau masih miskin.

“Wartawan jangan jadi penonton, agar rakyat Riau tak sengsara di lumbung energi!” seru wartawan senior yang juga pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), P Hasudungan Sirait, Sabtu (6/6) malam, ketika menjadi nara sumber Journalist Camp bertema “Jurnalis Sadar Energi”, 5-7 Juni 2015, di Rindu Sempadan, Minas, Siak.

Pelatihan itu digelar AJI Pekanbaru bekerja sama dengan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Pesertanya sebanyak 20 jurnalis, berasal dari Pekanbaru dan Rokan Hilir.

Menurut Hasudungan, Provinsi Riau peringkat ke-3 penyumbang devisa ekspor migas Indonesia, setelah Kaltim dan Kepri. Ironi Riau, kaya tapi miskin. Saat ini 8,12 persen dari 5 juta rakyat Riau di bawah garis kemiskinan. Sampai tahun 1980-an, Riau termasuk provinsi termiskin. Bahkan, SDM Riau belum istimewa dari segi pendidikan. Sepertiga atau sekitar 1.000 Km jalan Provinsi Riau rusak berat.

“Riau masih miskin. Kemana uang minyak pergi? Rakyat Riau tak pantas miskin di lumbung energi. Wartawan jadilah watch dog. Awasi, kemana uang energi Riau pergi. Sebagai jurnalis, be the best,” desak Hasudungan, yang juga penulis berbagai buku terkait jurnalistik.

Kepala Urusan Operasional SKK Migas, Rudy Fajar menjelaskan, dana bagi hasil migas sebanyak 85 persen untuk pemerintah Indonesia. Sedangkan kontraktor, seperti PT CPI yang mengelola beberapa blok di Riau, hanya mendapat hasil 15 persen.

“Dari dana 85 persen itu, pemerintah pusat menyalurkan kembali ke daerah sebesar 15 persen. Sedangkan dari dana bagi hasil 15 persen itu, 3 persen untuk pemerintah provinsi, 12 persen diberikan pada kabupaten/kota. Sementara yang 12 persen itu dibagi lagi, 6 persen untuk kabupaten/kota penghasil, dan 6 persen lagi dibagikan kepada kabupaten lainnya dalam provinsi,” papar Rudy, yang juga menjadi nara sumber dalam Journalist Camp itu.

Rudy menambahkan, tahun 2012 Riau menerima Rp 9,61 triliun dari bagi hasil migas. Sedangkan pada 2013 sebesar Rp 10,53 triliun menjadi milik Riau dari bagi hasil migas.

Dalam kesempatan yang sama, Advisor Petroleum Engineer PT Chevron Pacific Indonesia, Paulus Suryono Adisoemarta mengatakan, PT CPI merupakan penghasil minyak terbesar dengan total sebanyak 12 miliar barel minyak dihasilkan sejak 1952. Kini PT CPI berkontribusi sekitar 40 persen produksi minyak nasional.

“Produksi puncak mencapai satu juta bph (barel minyak per hari-red) pada tahun 1973. Namun, pada tahun 2014, produksi kotor sebesar 306 ribu bph,” katanya.

Lisda Yulianti H
– See more at: http://www.katakini.com/berita-riau-masih-miskin-wartawan-jangan-jadi-penonton.html#sthash.95ptmdl7.dpuf

Posted in Kabar Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *