Betapa Gampangnya Pelajar di Riau Peroleh Narkoba (Bagian 1)

PEKANBARU – Darurat narkoba juga terjadi di kalangan pelajar di Provinsi Riau. Bahkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdibud) Riau, Kamsol menyebut saat ini ada 2.000 lebih siswa terlibat narkoba.

“Ini sudah darurat narkoba,” kata Kamsol menggambarkan kondisi itu, Jumat (15/5/2015).

Menurutnya, informasi tersebut ia peroleh dari Direktur Direktorat Bimbinginan Masyarakat Polda Riau, Kombes Pol Sugiyono beberapa waktu lalu. Namun, untuk angka pastinya, Kamsol meminta agar dikonfirmasi ke Polda Riau.

Dijelaskannya, kondisi ini cukup menggambarkan bagaimana rentannya kelompok pelajar menjadi sasaran pengedar narkoba. Bahkan, jika sudah menjadi pengguna, tak tertutup kemungkinan para pelajar dimanfaatkan untuk mengedarkan narkoba. “Dikasih dulu dengan harga murah. Bisa jadi nanti dimanfaatkan jadi pengedar,” kata dia.

Melihat kondisi itu, maka tanggal 20 Mei mendatang Disdikbud akan meluncurkan program Kebangkitan Riau. Program itu merupakan bagian dari peringatan Hari kebangkitan Nasional yang jatuh tepat di tanggal yang sama.

Kamsol mengatakan, peluncuran ini nantinya dilakukan dalam bentuk pembacaan ikrar untuk menghindari narkoba dan ajaran-ajaran radikal. Ikrar tersebut akan melibatkan masyarakat, pelajar, mahasiswa dan pemuda. Kemudian akan dilakukan juga pengumpulan tandatangan aksi menolak hal-hal yang merusak mental.

Selanjutnya, Disdikbud bersama sejumlah pihak terkait akan menyusun road map pemberantasan narkoba di kalangan pelajar. Diantaranya dengan merencanakan pembentukan komunitas dan satuan tugas antinarkoba di sekolah. “Kami akan surati kabupaten/kota untuk melakukan hal yang sama,” paparnya.

Jumat kemarin, Tribun mencoba menelusuri peredaran narkoba di kalangan mahasiswa dan pelajar di Pekanbaru. Hasilnya cukup mengejutkan. Karena sejumlah pelajar mengaku mudah mendapatkan barang haram itu.

Ihsan misalnya. Mahasiswa perguruan tinggi negeri di Pekanbaru mengaku bisa mendapatkan narkoba dengan mudah asal mengenal bandar atau penjual barang haram tersebut. Peredaran ini sering terjadi di berbagai tempat. Seperti di klub malam, kafe-kafe sampai kos-kosan.

“Narkoba ini sekarang mudah di dapat, tapi tak bisa dijual ke sembarangan orang. Harus kenal sama orang yang jual atau bawa orang yang udah sering beli. Dari yang saya tahu, orang seumuran saya banyak pakai sabu dan ganja. Kalau pakai ekstasi main di klub biasanya,” paparnya.

Ia mengaku kerap ditawari ganja oleh temannya saat ngumpul di rumah atau kafe. Namun, ia menolak karena tak ingin mengkonsumsinya. Lagian Ihsan juga tak punya uang untuk membeli.

“Dulu saya sering ditawari, tapi saya menolak. Awalnya disuruh coba, tak enak. Saya juga lupa harganya berapa waktu itu. Satu paket kalau tak salah diatas Rp 50.000,” katanya.

Selain Ihsan, mahasiswi bernama Lia juga mengaku sering ditawari narkoba jenis ganja dan sabu. Bahkan Lia mengaku sempat mencoba sekali. “Dikasih teman, dicoba, rasanya aneh. Lagian tak ada gunanya coba kayak gitu, mending beli kue, (kalau di) makan kenyang,” ucapnya.

Lia tak menampik peredaran narkoba sudah luas. Biasanya seringkali ditawarkan dengan anak muda yang suka nongkrong di kafe mahal. (bersambung)

Sumber: Tribun Pekanbaru Cetak

Posted in Kabar Riau and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *