Populasi Kritis Menjadi Sangat Kritis, Konflik Gajah dan Manusia (Bagian 2)

Terjadi konflik gajah dengan manusia di Riau, menurut Syamsidar juga dimanfaatkan para pemburu gading gajah atau binatang langka di Riau. Ini dikarenakan jalur keluar untuk penjualan gading gajah, kulit harimau dan trenggiling. Makanya, jangan heran ketika konflik gajah terjadi dengan manusia kemudian gajah mati, akan tetapi gading gajah sudah tidak ada lagi.

“Kalau masyarakat biasa tentu tak tahu mau jual ke mana. Tapi karena ada cukong dan pembelinya. Makanya gading gajah sering hilang, ketika gajah ditemukan mati di perkebunan masyarakat. Kami tidak menuduh tapi indikasinya seperti itu, Makanya kami menyebutnya pemburu oportunis,” jelas pengurus WWF yang tugas di Riau sejak tahun 2004 lalu ini.

Menghilangkan atau mengurangi konflik gajah di Riau dan mengatasi kepunahan gajah di Riau, salah satunya penegakkan hukum terkait pembunuhan gajah. Sekian banyak kasus kematian gajah terjadi. Kemudian pihak BKSDA melakukan otopsi dan hasilnya diserahkan ke pihak kepolisian dan kejaksaan tapi tak ada pihak yang dihukum. Hal inilah membuat tingkat kematian gajah kian tinggi dan puncaknya tahun 2012 itu. “Karena tak ada sanksi yang diterima pelaku pembunuh gajah. Padahal kalau diurai tahu siapa pelakunya,” tegasnya.

Berkaitan dengan strategi agar tak terjadi konflik gajah di Riau, pihak BKSDA sudah melakukan berbagai upaya. Di antaranya memberikan pelatihan atau membentuk playing squad. Pelatihan dilakukan seperti memberikan pendidikan bagaimana menghalau gajah ke tengah hutan kembali. Program ini disebut mitigasi atau pencegahan terjadi konflik. Beberapa daerah atau tempat langsung dibentuk playing squad seperti di TNTN, kawasan RAPP, IKPP ini dibentuk tahun 2004. Kemudian di Indo Sawit dibentuk juga playing squad tapi sampai belum ada gajah akantetapi patroli yang dilakukan manusia.

Beberapa tempat yang hingga 2013 belum memiliki playing squad di Balai Raja, Mahato, Serange, Tapung dan Pemayongan. “Kami berharap di daerah ini juga ada playing squad,” lanjutnya.

Kemudian solusi lain yang harus dilakukan setiap masyarakat harus menyadari bahwa gajah merupakan hewan yang harus di lindungi. Paling tidak dengan berbagi tempat dengan hewan tersebut bisa mempertahankan gajah sumatera ini. Karena gajah sumatera terbanyak di Provinsi Riau. Walaupun sebaran gajah sumatera berawal dari Aceh hingga Lampung. Kemudian yang tidak ada hanya Sumatera Barat saja.

“Kita harus berdamai dengan gajah karena sama-sama mahluk tuhan,” jelas Syamsidar.

Kemudian meningkatkan mitigasi yang seharusnya tak ada alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan di Riau. Kemudian mitigasi dilakukan dengan prosudural dan terorganisir. Perlu diakui gajah tidak akan menyerang manusia jika mereka tidak terancam. Kejadian selama ini, banyak pemilik kebun menghalau gajah dari kebun mereka akan tetapi gajah pindah ke kebun warga lainnya.
“Karena mereka tak terarah di halau makanya gajah merasa terancam akhirnya menyerang manusia. Tapi dari sekian banyak konflik tetap gajah paling banyak mati ketimbang manusia,” ucapnya.

Perlu disadari kerugian terjadi jika gajah mati dan punah, maka secara ekologi mata rantai ekosistem akan terputus. Karena fungsi gajah penyebaran bibit di hutan. Jika tak ada gajah maka ekosistem akan habis di hutan Riau. Riau juga bakal kehilangan budaya dan kehilangan gajah. Padahal gajah sumatera menjadi kebanggan Riau dan Indonesia, karena gajah tidak ada di Kalimantan, Papua dan Sulawesi. Habitat terbesarnya di Riau. (*)

Penulis: Erwan Sani
Sumber: Riau Pos

Posted in Opini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *