Populasi Kritis Menjadi Sangat Kritis, Konflik Gajah dan Manusia (Bagian 1)

Konflik gajah dan manusia terjadi setiap tahunnya. Ada saja gajah yang mati. Inilah yang menyebabkan International Union Conservation Nation (IUCN) mengeluarkan pernyataan keberadaan gajah Sumatera dari kritis menjadi sangat kritis bahkan bisa punah.

Kondisi dan keberadaan tutupan hutan di Provinsi Riau sebagai habitat gajah-Sumatera semakin menyempit, sehingga kemungkinan besar terjadinya konflik gajah dengan manusia sangat tinggi. Tak hanya hutan-hutan lindung akan tetapi hutan yang ditetapkan sebagai taman nasional juga tak terlepas dari alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Hal ini terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan begitu juga beberapa hutan tegak menjadi habitat gajah seperti di Balai Raja Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.

“Luas TNTN yang sebelumnya 83.000 hektare, saat sekarang kurang lebih 50 persennya sudah dialih fungsi menjadi kebun sawit. Padahal semua tahu sawit merupakan makanan favorit dari gajah,” kata Humas World Wide Foundation (WWF) Riau, Syamsidar kepada Riau Pos beberapa waktu lalu.

Kemudian gajah di kawasan hutan Serange juga semakin terjepit. Pasalnya hutan tersebut sudah banyak dibuka perkebunan sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI) dan juga HPH milik berbagai perusahaan besar di Riau. Akhirnya penyempitan habitat gajah semakin memprihatinkan.

Ini terbukti dan sangat menyedihkan, konflik gajah dengan manusia tahun 2012-2015 menjadi contoh besar semakin menyempitnya habitat mereka di hutan Riau. Jumlah gajah yang mati sangat jauh dari dugaan dan sangat mengejutkan. Pasalnya jumlah gajah yang mati mencapai belasan ekor, tentu secara persentase jumlah ini sangat besar.

Tingginya konflik gajah di Riau juga membuktikan menghilangnya beberapa kantong atau habitat gajah. Sebelum tahun 2003-2006 lalu kantong atau habitat gajah di Riau terdapat 15 kantong. Tapi terhitung 2006-2015 jumlah habitat gajah di Riau tinggal beberapa kantong saja. Kantong tersebut dua di TNTN, Balai Raja, Tapung, Mahato, Giam Siak Kecil, Serange (perbatasan Kuantan Singingi-Indragiri Hulu), Pemayongan (perbatasan Riau-Jambi).

Sedangkan kantong-kantong habitat gajah yang hilang di antaranya, Rimbang Baling atau di daerah Bukit Siabu Kabupaten Kampar. Ini hilang diakhir tahun 2003 lalu, ketika daerah tersebut gajah sering berkonflik dengan warga. Akhirnya pihak BKSDA memindahkan semua gajah ke Pusat Latihan Gajah (PLG). Di antaranya dipindahkan di TNTN dan beberapa tempat lainnya.

Dengan kantong-kantong gajah tersisa dari investigasi dilakukan pihak WWF dan BKSDA jumlahnya berkisar tiga ratusan ekor gajah. Jumlah kelompok gajah terbesar di TNTN mencapai 150-200 ekor. Untuk kantong-kantong lainnya seperti Mahato berkisar 5-10 ekor gajah. Kemudian di Balai Raja jumlah gajah berkisar 30-an ekor dan di kantong Serange berkisar 30-an ekor.

Jika dirunut mengapa terjadi begitu besar konflik gajah dan manusia di Provinsi Riau khususnya tak lain karena semakin menyempitnya habitat mereka. Sehingga home ring mereka yang selama ini masih hutan alam berubah menjadi perkebunan sawit. Tentu secara otomatis gajah head to head dengan pemilik kebun.

“Ini terbukti di kawasan hutan Balai Raja. Jika ingin melihat gajah liar dengan mudah di Balai Raja saja. Sebab luasan hutan di Balai Raja semakin sedikit, bahkan bisa dikatakan bukan hutan tegak alam akan tetapi belukar saja,” lanjut Syamsidar.

Berdasarkan laporan satelit Citra, luasan hutan di Balai Raja Kabupaten Bengkalis yang sebelumnya mencapai 18.000 hektare, namun berdasarkan rilis terakhir yang mereka sampaikan luasan hutan tinggal 120 hektar tutupan hutan.

Catatan WWF, konflik gajah dan manusia terjadi akibat penyempitan hutan, akibat perambahan hutan, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. “Tertinggi konflik dari catatan kami, karena alih fungsi habitat gajah menjadi perkebunan sawit. Sedangkan sawit salah satu makanan mereka,” jelasnya.

Tapi perlu menjadi catatan bahwa adanya perusakan perkebunan sawit karena gajah melintas saja. Sawit yang rusak juga sepanjang jalur perjalanan sekelompok gajah saja. Karena secara biologis gajah berjalan terus melalui jalur atau lintasan mereka selama mereka hidup. Diketahui bahwa setiap harinya atau selama 24 jam, 80 persen gajah itu makan.

“Makanya sawit makanan favorit itu dia makan. Tapi tak semuanya dimakan karena ditepi laluan gajah saja. Dan itu sudah kita buktikan di lapangan ketika konflik gajah terjadi. Begitu juga pondok-pondok rubuh karena laluan mereka,” jelas Syamsidar lagi.

Penulis: Erwan Sani
Sumber: Riau Pos

Posted in Opini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *