Polisi Ditantang Ungkap Kasus Kematian Jurnalis

Kepolisian RI dinilai gagal mereformasi diri sebagai pengayom publik, termasuk insan pers. Banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tidak terungkap hingga kini, termasuk kasus kematian jurnalis. Karena itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menantang Kepolisian RI mengungkap kasus-kasus kematian jurnalis di Indonesia.

“Sudah waktunya polisi mengungkap kasus-kasus kematian jurnalis. Buktikan kehebatan polisi seperti pengungkapan kasus lama Novel, BW, Samad,” tantang Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/5) sore.

Menurutnya, pers di Indonesia masih dalam ancaman, walaupun setiap tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Internasional. Ancaman kekerasan terhadap jurnalis cukup tinggi. “Indeks kebebasan pers Indonesia menjadi 138 dari 180 negara, lebih buruk dari Timor Leste di peringkat 103, Brunei peringkat 121, dan Thailand peringkat 134,” papar Suwarjono.

Di awal tahun 2015 saja, sudah terjadi 12 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Dan polisi terkesan tidak serius menangani 12 kasus tersebut. Kedua belas kasus tersebut sebagai berikut:

1. Jurnalis Waspada, Muhammad Hannafiah, di Kota Langsa, Aceh, 15 Januari 2015, yang mendapat teror di rumahnya dari orang tak dikenal.
2. Jurnalis media cetak Manado, Marvil Rumerung. Ia dipukul Polwan pada 14 Januari 2015.
3. Jurnalis Tabloid Fokus, Beni Faisal, di Lampung, yang tewas ditembak orang tak dikenal pada 25 Januari 2015.
4. urnalis harian Suara Karya, Wisnu Bangun, di Banten pada 15 Januari 2015. Ia mengalami percobaan penganiayaan di gedung DPRD Banten oleh anggota dewan.
5. Pelarangan liputan terhadap beberapa wartawan oleh Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo pada 28 Januari 2015, melarang wartawan meliput ribuan nelayan yang demo menentang aturan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
6. Wartawan harian pagi Cahaya Papua, Risaldi, di Manokwari pada 29 Januari 2015. Ia dianiaya massa saat meliput aksi penutupan jalan raya.
7. Kontributor Trans TV, Juanda, di Bogor pada 30 Januari 2015. Seorang dokter inisial VQ di RSUD Ciawi merampas kamera Juanda saat hendak meliput korban kecelakaan tabrakan beruntun.
8. Wartawan media lokal Bekasi, Randy Yosetiawan Priogo, pada 19 Februari 2015. Ia dikeroyok sejumlah orang tak dikenal.
9. Kontributor Berita Satu TV, Ibeng, di Ternate pada 23 Maret 2015. Ia menjadi korban kekerasan oknum polisi saat meliput reka ulang kasus pembunuhan di wilayah itu.
10. Ancaman pada redaksi media lokal Ambon Info Baru pada 24 Maret 2015 oleh anggota polisi Ipda SU. Polisi itu mengancam salah satu wartawan, Saleh Tuhuteru karena pemberitaan di koran lokal itu.
11. Pelarangan liputan terhadap sejumlah wartawan oleh panitia penyelenggara acara Bandung Conference and Beyond 2015 di Balai Senat UGM, Yogyakarta, pada 8 April 2015. Wartawan dilarang mewawancarai Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi.
12. Pelarangan peliputan terhadap wartawan majalah Selangkah, Papua, Yohanes Kuayo, pada 30 April 2015. Ia ditangkap Satgas Polda Papua saat meliput Panglima Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka Leonardus Magai Yogi dan dua temannya yang tertembak polisi dan dirawat di RSUD Nabire.

Pada peringatan World Press Freedom Day 2015, untuk keempat kalinya polisi mendapat penghargaan Musuh Kebebasan Pers. Sejak 2007, setiap tahun AJI menilai ancaman kebebasan pers di Indonesia. Dasarnya, pelaku kekerasan terhadap jurnalis atau media dilihat dari kuantitas dan kualitas.

Penulis: Lisda Yulianti H
Sumber: katakini.com

– See more at: http://www.katakini.com/mobile/berita-polisi-ditantang-ungkap-kasus-kematian-jurnalis.html#sthash.MEYOHTCX.dpuf

Posted in Kabar AJI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *