Polisi Jadi Musuh Kebebasan Pers

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengumumkan, Musuh Kebebasan Pers 2015 adalah Polisi. “Anugerah” itu diberikan kepada Polisi, lantaran berbagai kasus kekerasan terhadap insan pers tidak pernah tuntas, bahkan aparat kepolisian juga menjadi pelaku kekerasan terhadap pers.

Ketua Bidang Divisi Advokasi AJI Indonesia, Imam D Nugroho mengumumkan Musuh Kebebasan Pers 2015 yaitu Kepolisian RI ini bertepatan dengan peringatan World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Internasional yang diperingati Minggu, 3 Mei 2015.

Menurut Imam, sejak 1992, ada 1.123 jurnalis di seluruh dunia terbunuh karena aktivitas jurnalistiknya. Dan 19 di antaranya terbunuh pada 2015 ini. Sementara di Indonesia, sejak 1996 ada delapan kasus kematian jurnalis yang belum diusut tuntas oleh kepolisian.

“Agustus 2014 menjadi catatan buruk kepolisian, karena genap 18 tahun kasus terbunuhnya jurnalis Udin tanpa pembunuhnya diusut polisi. Berulangkali petinggi polisi janji mengusut kembali kasus Udin, tapi sampai masa kadaluarsa datang atau 18 tahun, tidak ada tindak lanjut dari polisi,” sesal Imam dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/5) siang. “Udin adalah jurnalis Harian Bernas Yogyakarta. Nama lengkapnya Muhammad Fuad Syafrudin,” lanjutnya.

Sampai saat ini, delapan pembunuhan jurnalis tanpa ada pengusutan terhadap pelaku, sebagai berikut:

1. Muhammad Fuad Syafruddin, jurnalis Harian Bernas Yogyakarta, dibunuh 16 Agustus 1996 2. Naimullah, jurnalis Harian Sinar Pagi, Kalimantan Barat, dibunuh 25 Juli 1997 3. Agus Mulyawan, jurnalis Asia Press, dibunuh 25 September 1999 4. Muhammad Jamaludin, TVRI, Aceh, dibunuh 17 Juni 2003 5. Ersa Siregar, RCTI, dibunuh 29 Des 2003 6. Herliyanto, Tabloid Delta Pos, dibunuh 29 April 2006 7. Adriansyah Matra’is Wibisono, TV Lokal Merauke, dibunuh 29 Juli 2010 8. Alfred Mirulewan, Tabloid Pelangi, Maluku, dibunuh 18 Desember 2010

“Selain kasus pembunuhan, sepanjang 3 Mei 2014 – 3 Mei 2015, juga terjadi 37 kasus kekerasan terhadap pers. Dari 37 kasus itu, 11 kasus dilakukan oleh polisi, enam kasus dilakukan oleh orang tak dikenal, empat kasus dilakukan massa, dan lainnya oleh berbagai macam profesi,” papar Imam.

Semua kasus kekerasan atas jurnalis yang dilakukan polisi, sambungnya, tidak pernah diselesaikan sampai ke jalur hukum. Catatan buruk polisi bertambah di Desember 2014, Pemred Jakarta Post ditetapkan sebagai tersangka. Maret 2015, polisi menangkap, menggeledah rumah jurnalis Lampung.

“Catatan buruk kepolisian juga datang dari ranah kebebasan berekspresi warga negara. Berdasarkan catatan Institute for Criminal Justice Reform, sejak 2008 sudah lebih dari 80 kasus kriminalisasi atas warga negara yang mengeluarkan pendapat atau ekspresi di ranah internet. Korban kriminalisasi berdasarkan UU ITE (UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik-red) ini datang dari berbagai latar belakang seperti ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis, wartawan dan pengacara,” ungkap Imam.

Dampaknya, di beberapa kota sudah mulai muncul ketakutan nara sumber diwawancarai media online karena ancaman “pasal karet” UU ITE. Karena itu, untuk tahun 2015 ini, AJI menetapkan Kepolisian sebagai Musuh Kebebasan Pers 2015. AJI menyatakan polisi telah gagal mereformasi diri sebagai pelayan dan pengayom publik.

“Sejak pertama kali mengumumkan “anugerah” Musuh Kebebasan Pers di tahun 2007, ini kali keempat polisi menjadi Musuh Kebebasan Pers. Karena itu, Presiden Joko Widodo harus melakukan reformasi besar-besaran terhadap kepolisian karena kebebalan untuk berubah,” tandasnya. (lyh)

Sumber: katakini.com

– See more at: http://www.katakini.com/berita-polisi-jadi-musuh-kebebasan-pers.html#sthash.D5OEfY7f.dpuf

Posted in Kabar AJI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *