Hentikan Kriminalisasi Jurnalis

PEKANBARU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru mengutuk kekerasan yang terjadi pada jurnalis dan mendesak pihak kepolisian agar menghentikan kriminalisasi terhadap jurnalis. Jika terjadi pelanggaran kode etik jurnalistik, AJI meminta persoalan diselesaikan melalui Dewan Pers, sesuai MoU antara Kapolri dengan Dewan Pers.

“Stop kekerasan pada jurnalis. Hentikan segala upaya yang menghambat kerja jurnalis, dan hentikan mengkriminalisasikan jurnalis,” tegas Fakhrurrodzi, seusai gelaran aksi simpatik AJI Pekanbaru, memperingati WPFD 2015, Minggu (3/5), di arena Car Free Day Jalan Diponegoro, Pekanbaru.

Menurut dia, rilis AJI Indonesia yang menganugerahkan predikat Polisi sebagai Musuh Kebebasan Pers, memang sangat beralasan. Indikatornya, selain berbagai kekerasan yang dilakukan, Polisi dengan mudah menetapkan tersangka kepada orang-orang yang melakukan kebebasan berekspresi, dengan menggunakan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), terutama pasal 27 dan 28.

“Polisi lupa, UU ITE itu untuk transaksi elektronik, bukan untuk kebebasan berekspresi. Efeknya, bagi nara sumber, ketika diwawancara oleh media online, mereka khawatir ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi,” ujar Fakhrurrodzi.

Karena itu, Ia minta polisi kembali kepada MoU antara Kapolri dengan Dewan Pers. Jika ada pelanggaran kode etik jurnalistik, diselesaikan melalui Dewan Pers.

Berdasarkan catatan Institute for Criminal Justice Reform, sejak 2008 sudah lebih dari 80 kasus kriminalisasi atas warga negara yang mengeluarkan pendapat atau ekspresi di ranah internet. Korban kriminalisasi berdasarkan UU ITE ini datang dari berbagai latar belakang seperti ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis, wartawan dan pengacara. (lyh)

Sumber: katakini.com

– See more at: http://www.katakini.com/berita-hentikan-kriminalisasi-jurnalis.html#sthash.of5fl7X6.dpuf

Posted in Kabar AJI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *