Usut Tuntas Kasus Kematian Jurnalis

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia terus menuntut polisi segera mengusut tuntas delapan kasus kematian jurnalis sejak 1996, plus 37 kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi di Indonesia sepanjang 3 Mei 2014 hingga 3 Mei 2015, agar tidak terjadi kasus serupa.

“Sejak 1996 di Indonesia ada delapan kasus kematian jurnalis yang belum diusut tuntas oleh kepolisian, plus 37 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang 3 Mei 2014 hingga 3 Mei 2015. AJI dalam posisi untuk terus menuntut polisi segera mengusut tuntas kasus itu, dan menyerukan agar tidak terjadi kasus serupa, tegas Ketua AJI Indonesia, Suwarjono, dalam rilisnya, Sabtu (2/5/2015).

Sedangkan di seluruh dunia, menurut Suwarjono, sejak 1992 ada 1.123 jurnalis terbunuh karena aktivitas jurnalistiknya. Dan 19 diantaranya terbunuh pada tahun 2015 ini.

Pada peringatan World Press Freedom Day (WPFD) atau Hari Kebebasan Pers Internasional 2015, yang diperingati pada 3 Mei 2015, Ketua AJI Indonesia ini mengajak seluruh anggota AJI untuk menjadikan peringatan tersebut sebagai momentum bagi AJI, bersama organisasi jurnalis di seluruh dunia untuk mengingat kembali pentingnya memperjuangkan dan mempertahankan kebebasan pers.

“Sekaligus menuntut diselesaikannya berbagai kasus kekerasan pada jurnalis, yang beberapa kali kita ketahui hingga berujung kematian,” tegas Mas Jono, panggilan akrabnya.

Dia menambahkan, badan dunia The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) menyerukan peringatan WPFD di seluruh dunia. Pada tahun ini, Unesco menetapkan tema Let Journalism Thrive! Towards Better Reporting, Gender Equality, & Media Safety in the Digital Age atau menuju proses reportase yang lebih baik, kesetaraan gender dan keselamatan media di era digital. Peringatan WPFD dipusatkan di Riga, Latvia, 2-4 Mei 2015.

Lebih lanjut Suwarjono memaparkan, WPFD diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1993 menyusul adanya rekomendasi soal ini diadopsi dalam Sidang ke-26 Konferensi Umum UNESCO pada tahun 1991. Rekomendasi dan sidang ini juga sebagai respon atas seruan wartawan Afrika yang pada tahun 1991 menghasilkan Deklarasi Windhoek, yang memuat soal prinsip-prinsip pluralisme dan kemandirian media.

Atas semua itu, AJI menghimbau seluruh anggota AJI di mana pun berada untuk ikut memperingati WPFD 2015. Peringatan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai demonstrasi di tempat-tempat strategis sebagai bentuk sosialisasi dan desakan pada kasus tertentu, diskusi, pemutaran film, kampanye media sosial, membagikan selebaran dan lain sebagainya. “Mari memperingati WPFD 2015!” seru Suwarjono. (*)

Posted in Kabar AJI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *