Membangun Kewirausahaan untuk Melawan Konglomerasi Media

JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengkritisi konglomerasi yang terjadi di bidang media. Di Indonesia, hampir seluruh media dikuasai oleh 12 pemilik modal, sehingga media sangat Jakarta Centries. Melawan konglomerasi ini, AJI Indonesia mengajak anggota AJI di seluruh kota, membangun kewirausahaan di bidang media.

“Salah satu program AJI Indonesia yang sangat besar dan menjadi komitmen kita tiga tahun ke depan adalah membangun kewirausahaan di bidang media,” tutur Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono, pada penutupan Web Development Training yang diselenggarakan AJI Indonesia bekerjasama dengan Development and Peace (D & P) Canada, Minggu (19/4), di Jakarta.

Lelaki yang akrab disapa Mas Jono ini mengharapkan, dengan dibangunnya media-media lokal, konglomerasi media bisa dilawan. Dan yang paling memungkinkan bagi pergerakan AJI untuk melawan konglomerasi media, dengan menjadikan media online sebagai platform kewirausahaan dibidang media.

“Jaringan media kita hanya dikuasai 12 pemilik modal di Jakarta. Konglomerasi media ini, mendorong polarisasi isu-isu pemberitaan di Indonesia. Akibatnya, isu kedaerahan dan kepentingan wilayah di luar Jawa kurang terangkat ke publik nasional,” kata Suwarjono.

Lantaran cuma dikuasai 12 pemilik modal, menurut Ketum AJI Indo ini, media massa di Indonesia lebih ke Jakarta Centries. Dampaknya, konten untuk lokal pun sangat sedikit, sehingga hampir separuh anggota AJI yang menjadi kontributor di daerah “menjerit” lantaran berita yang dikirim ke media seringkali tidak dimuat.

“Ke depan AJI berharap semua anggota AJI paham bagaimana mencari uang dari media online. Kita berharap teman-teman anggota AJI bisa menghasilkan konten-konten sendiri yang berkualitas, yang berbeda, dan menawarkan kedalaman dibanding media-media yang dimiliki 12 konglomerat itu,” tegasnya.

AJI berharap, sambung Suwarjono lagi, jurnalis daerah bisa mandiri, mengembangkan media sendiri yang otomatis menjadi pembawa pesan kepentingan daerah.

Dengan mengikuti pelatihan yang digelar AJI Indonesia bersama D & P Canada ini diharapkan kemampuan jurnalis dalam mengakselerasi media online lebih meningkat. Peserta yang berasal dari Kendari, Makassar, Palu, Medan, Pekanbaru, Bengkulu, Kediri, Pontianak, Mataram, Ambon, Bandung dan Jakarta ini, diharapkan menjadi pengelola situs AJI kota masing-masing yang akan menjadi penyampai informasi terutama terkait isu-isu yang tidak menjadi prioritas media mainstream seperti isu marjinalitas, perdamaian, serta lingkungan.

Materi pelatihan disampaikan oleh nara sumber yang kompeten di bidangnya. Indonesia di Era Internet dan Anatomi Media Online oleh Heru Margianto dari Kompas.com; Membangun Media Online: Modifikasi CMS oleh Iyan Kushardiansya.

Kemudian, Membangun Media Online, Merancang Isi Visual oleh Lexy Rambadeta, Kode Etik dan Regulasi Media Online serta Media Sosial dan Kampanye oleh Asep Saefullah dari Sindo Weekly.

– See more at: http://www.katakini.com/berita-membangun-kewirausahaan-untuk-melawan-konglomerasi-media.html#sthash.89AZOSS4.dpuf

Posted in Kabar AJI and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *