Catatan Perjalanan AJI Pekanbaru

Saya mulai mengenal organisasi pers Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ketika masih aktif sebagai mahasiswa, khususnya ketika aktif sebagai pegiat pers kampus SKK Bahana Mahasiswa Universitas Riau. Pada Agustus 1999, saat mulai aktif sebagai jurnalis profesional di Harian Pagi Riau Pos, saya mulai mencari informasi terkait keberadaan AJI di Pekanbaru. Dari informasi yang saya dapatkan ketika itu, akan dibentuk organisasi AJI di Pekanbaru. Informasi tentang keberadaan AJI banyak didapatkan dari jurnalis senior di Riau Pos seperti Hasan Hanafi, Norham Wahab, Eddy M Yatim dan Kasdy Albasyiri.

Saat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Di pengujung tahun 1999 lahirnya AJI Pekanbaru dideklarasikan di Hotel Sahid Pekanbaru. Saya turut menghadiri deklarasi tersebut. Selain nama-nama di atas, terdapat nama-nama seperti Nasori, Chandra Ibrahim, Muchid Albintani dan Ahmad Jamaan yang turut menghadiri deklarasi tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, anggota AJI Pekanbaru memang lebih banyak diisi oleh jurnalis di lingkungan Riau Pos Grup.

Pada tahun 2005 saya dan Adriadi mendapatkan kepercayaan menjadi Ketua dan Sekretaris AJI Pekanbaru melalui Konferensi AJI Kota Pekanbaru yang pertama kali dilaksanakan di Kampus Universitas Riau, Gobah Pekanbaru. Saya memimpin AJI Pekanbaru untuk Periode sisa AJI Pekanbaru 2004-2007 yang awalnya dipimpin oleh saudara Ahmad Jamaan. Namun karena pada 2005 Ahmad Jamaan diterima sebagai dosen PNS di Fisipol Universitas Riau maka dia melepaskan tugasnya sebagai Ketua AJI Pekanbaru ketika itu.

Koordinasi dengan pengurus AJI Pekanbaru dan juga pengurus AJI Indonesia terus saya lakukan untuk menggerakkan roda organisasi. Harapan AJI Indonesia kepada semua pengurus AJI di daerah adalah bagaimana supaya keberadaan AJI bisa makin dikenal luas oleh publik dan khususnya di kalangan jurnalis itu sendiri. Pengurus AJI di daerah juga diminta untuk terus menambah jumlah keanggotaan dengan tetap mengedepankan seleksi yang ketat untuk menjadi anggota AJI.

Untuk semakin memperkenalkan AJI kepada masyarakat dan jurnalis, pengurus ketika itu sering menggelar diskusi-diskusi kecil yang temanya tidak jauh dari semangat dan platform AJI, yaitu terkait dengan profesionalisme, kesejahteraan dan kebebasan pers. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah diskusi bertema “RUU KUHP dan Kebebasan Pers” yang digelar di Kampus Unri Gobah Pekanbaru pada 2005. Diskusi yang mengupas tentang kebebasan pers ini menghadiri pembicara dari AJI Indonesia, Bayu Wicaksono. Hadiri juga praktisi hukum lokal ketika itu, Zulkarnain Nurdin dan Firdaus Basir.

Pada tahun 2007 saya kembali dipercaya menjadi Ketua AJI Pekanbaru melalui Konferta II AJI Pekanbaru yang berlangsung di Hotel Rauda Pekanbaru. Pada Konferta yang dihadiri belasan anggota AJI Pekanbaru tersebut juga dipilih saudara Hasan Basril untuk menjadi Sekretaris AJI Pekanbaru 2007-2010. Mulai tahun tersebut, AJI Pekanbaru mulai memberanikan untuk menggelarkan Konferta di hotel berbintang walaupun dengan keterbatasan dana yang ada.

Dalam perkembangan selanjutnya, keanggotaan AJI Pekanbaru tidak lagi didominasi oleh kalangan jurnalis dari Riau Pos Grup saja. Beberapa jurnalis dari grup media lain seperti Riau Mandiri mulai aktif bergabung ke AJI, seperti saudara Hasan Basril dan Dina Febriastuti. Bahkan, keanggotaan AJI juga mulai diisi oleh jurnalis dari sejumlah kabupaten dan kota di Riau seperti dari Dumai, Rengat dan Tembilahan. Banyaknya media cetak dan online yang terbit di Riau juga berdampak pada semakin bertambahnya jumlah jurnalis yang menjadi anggota AJI Pekanbaru.

Walaupun jumlah anggota AJI Pekanbaru mulai meningkat dari tahun ke tahun, namun pengurus terus berupaya memperkenalkan AJI ke publik melalui pemberitaan di media massa. Media massa di Riau sering menulis berbagai aktivitas AJI Pekanbaru, baik aktivitas dalam hal pengembangan kapasitas jurnalis. Sesuai dengan platform yang disebutkan sebelumnya, yaitu meningkatkan profesionalisme, kesejahteraan dan kebebasan pers, AJI Pekanbaru menggelar berbagai diskusi untuk pengembangan kapasitas jurnalis di Riau terkait dengan platform tersebut.

Dalam hal peningkatan profesionalisme jurnalis, AJI Pekanbaru pada tahun 2009 berkesempatan menggelar training etik jurnalis dengan tema “Mematuhi Kode Etik Menghindari Jerat Hukum”. Training yang digelar AJI Indonesia bekerjasama dengan DRSP-USAID ini diikuti jurnalis yang di Pekanbaru dan sejumlah kabupaten di Riau. Training digelar dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan menyegarkan pengetahuan jurnalis, khusus mengenai Kode Etik Jurnalistik dan persoalan-persoalan aktual mengenai etika pers. Training juga digelar untuk memberikan pengetahuan kepada jurnalis untuk bisa menghindari jerat hukum terkait persoalan pencemaran nama baik.

Terkait dengan upaya meningkat kesejahteraan jurnalis, AJI Pekanbaru juga berkesempatan menyelenggarakan diskusi tentang upah layak untuk jurnalis. Diskusi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (May Day) ini digelar di Plaza Soto Pekanbaru pada 30 April 2009. Diskusi yang menghadirkan pengurus serikat buruh di Riau, pengamat ekonomi, pemerintah daerah dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) ini bertujuan untuk memberikan penyadaran dan pemahaman bagi jurnalis di Riau terkait kelayakan upah yang mereka terima sebagai jurnalis.

Dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih luas tentang kebebasan pers, AJI Pekanbaru bekerjasama dengan Dewan Pers juga berkesempatan menggelar diskusi dengan tema “Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik” di Hotel Pangeran Pekanbaru. Diskusi ini menghadirkan pembicara dari pengurus AJI Indonesia Willy Pramudya, anggota Dewan Pers Santoso, praktisi Humas di Riau, Fakhrunnas MA Jabbar. Diskusi dihadiri kalangan jurnalis dan praktisi Humas di Riau.

Banyak memang persoalan yang dihadapi dalam mengembangkan organisasi AJI. Mulai dari minimnya anggaran yang dimiliki, kantor yang sering berpindah-pindah hingga masih banyaknya pengurus yang tidak bisa sepenuhnya aktif beraktivitas di AJI. Walaupun demikian, kondisi seperti ini tidak mengurungkan niat pengurus AJI Pekanbaru untuk terus berkiprah dalam mengembangkan organisasi. Sebuah upaya bersama yang tentu saja tak sia-sia jika melihat perkembangan AJI Pekanbaru dewasa ini, yaitu jumlah anggota AJI Pekanbaru yang terus meningkat. Dan yang tak kalah penting adalah kiprah AJI Pekanbaru saat ini makin dikenal dan dihormati masyarakat, khususnya oleh kalangan jurnalis di Provinsi Riau. Dan juga, AJI Pekanbaru selalu melahir generasi-generasi jurnalis yang bisa bersikap independen dan profesional.***

Ahmad Fitri
Ketua AJI Pekanbaru, 2005-2007 dan 2007-2010

Posted in Opini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *